Sejarah Maulid Nabi: Asal-usul dari Masa ke Masa
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang kita kenal hari ini memiliki sejarah panjang yang bermula lebih dari seribu tahun lalu. Artikel ini merangkum asal-usul dan perkembangan Maulid Nabi — dari catatan pertama di era dinasti Fatimiyah, popularitasnya di masa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, hingga masuknya ke Nusantara melalui dakwah Wali Songo.
Artikel ini bersifat dokumentasi sejarah — menyajikan fakta dari sumber-sumber tepercaya tanpa memberi penilaian teologis. Bagi Anda yang tertarik pada perjalanan panjang tradisi Islam, informasi berikut menjadi pengantar yang menyeluruh.
Ini adalah bagian ke-2 dari seri harian Menuju Maulid Nabi 2026. Baca juga Bagian 1: Kapan Maulid Nabi 2026? untuk info tanggal dan countdown.
Kapan Perayaan Maulid Nabi Pertama Kali Dilakukan?
Menurut berbagai catatan sejarah Islam, perayaan Maulid Nabi tidak dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, dan tidak pula pada era Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Peringatan ini muncul beberapa abad kemudian.
Sebagian besar sumber sepakat bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan secara formal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir — sekitar abad ke-4 Hijriah (abad ke-10 Masehi). Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir kala itu, dan tradisi ini mereka lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarganya.
Beberapa sejarawan mencatat bahwa peringatan hari lahir Nabi secara informal sebenarnya sudah dilakukan lebih awal oleh sebagian umat Muslim, khususnya di kalangan Ahlul Bait, namun bentuk perayaan yang lebih terstruktur baru terlihat di era Fatimiyah.
Peran Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dalam Menyebarkan Maulid
Momentum besar berikutnya terjadi pada abad ke-12 Masehi, di masa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin). Salahuddin dikenal sebagai pemimpin Muslim yang membebaskan Yerusalem dari pasukan Salib pada tahun 1187 M.
Menurut sejumlah catatan, adik ipar Salahuddin — Sultan Muzaffaruddin Kokburi, penguasa Erbil (Irak modern) — menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran di kota Erbil sekitar tahun 1183–1207 M. Perayaan ini dilaporkan menjadi salah satu yang paling terorganisir di dunia Muslim saat itu, dihadiri ulama, penyair, dan masyarakat luas.
Salahuddin Al-Ayyubi disebut-sebut mendukung tradisi ini sebagai cara memperkuat kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW di tengah perang salib dan tantangan politik. Meski peran spesifik Salahuddin sendiri diperdebatkan di kalangan sejarawan, era ini secara umum menjadi titik penting popularitas Maulid di dunia Islam.
Maulid dalam Sejarah Kesultanan Islam
Setelah era Ayyubiyah, perayaan Maulid Nabi terus menyebar dan mengakar di berbagai kesultanan Islam:
- Kesultanan Mamluk (Mesir) — melanjutkan dan memperluas tradisi Maulid di kawasan Timur Tengah.
- Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) — Sultan Murad III (1574 M) meresmikan Maulid sebagai perayaan negara. Kompleks Masjid Nabawi di Madinah juga menjadi pusat peringatan Maulid selama era ini.
- Kesultanan-kesultanan Afrika Utara — Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya mengembangkan tradisi Maulid mereka masing-masing, sebagian masih berlangsung hingga kini.
- Anak Benua India — Kesultanan Mughal (Akbar, Aurangzeb) memperingati Maulid dengan pembacaan naat (puisi pujian Nabi) dan pengajian.
Maulid Masuk ke Nusantara
Peringatan Maulid Nabi masuk ke wilayah Nusantara (Indonesia sekarang) seiring dengan penyebaran Islam yang dimulai sekitar abad ke-13 dan mencapai puncaknya pada abad ke-14 hingga 16.
Tokoh yang paling dikenal dalam mengintegrasikan tradisi Maulid ke dalam budaya lokal adalah Wali Songo — sembilan ulama penyebar Islam di Jawa. Beberapa contoh adaptasi budaya:
- Sunan Kalijaga — memadukan tradisi peringatan Maulid dengan seni budaya Jawa. Sekaten (dari kata syahadatain) di Keraton Yogyakarta dan Surakarta menjadi warisan tradisi Maulid yang paling terkenal, digelar setiap tahun hingga sekarang.
- Kesultanan Demak & Mataram — mengadakan Grebeg Mulud, perayaan tahunan yang melibatkan pembagian gunungan (tumpukan hasil bumi) kepada masyarakat.
- Aceh — mengembangkan tradisi kanduri Maulid berupa kenduri kolektif di masjid dan meunasah.
- Cirebon — dikenal dengan tradisi Panjang Jimat, kirab pusaka keraton yang dilakukan bertepatan dengan Maulid.
- Banyuwangi — memiliki tradisi Endog-endogan, pawai hiasan telur yang unik.
Adaptasi ini menunjukkan bagaimana tradisi Maulid berkembang menjadi bagian dari identitas Islam Nusantara — perpaduan ajaran Islam dengan kearifan lokal.
Perkembangan Maulid Nabi di Indonesia Modern
Di Indonesia modern, peringatan Maulid Nabi tetap menjadi tradisi yang hidup di berbagai lapisan masyarakat. Beberapa perkembangan penting:
- Penetapan libur nasional — pemerintah Indonesia menetapkan 12 Rabiul Awal sebagai Hari Libur Nasional Maulid Nabi Muhammad SAW, memungkinkan seluruh masyarakat memperingatinya.
- Organisasi keagamaan — organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan lainnya memiliki pendekatan yang beragam dalam memperingati Maulid. Sebagian mengadakan pengajian dan kajian sirah, sebagian lain fokus pada refleksi individual.
- Tradisi keraton dilestarikan — Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta masih digelar setiap tahun oleh keraton, menjadi acara budaya yang dihadiri wisatawan.
- Media & teknologi — di era modern, peringatan Maulid juga meluas ke media sosial, siaran televisi, dan platform digital.
Setiap komunitas memiliki cara masing-masing dalam memperingati atau meneladani Nabi Muhammad SAW — dari pengajian besar hingga refleksi pribadi. Semua bentuk penghormatan ini bersifat pilihan dan tidak ada aturan baku yang mengikat.
Kesimpulan: Perjalanan Panjang Sebuah Tradisi
Dari catatan sejarah, perjalanan Maulid Nabi menempuh lebih dari seribu tahun — mulai dari Fatimiyah di abad ke-10, mendunia lewat Ayyubiyah di abad ke-12, hingga berakar kuat di Nusantara melalui dakwah Wali Songo dari abad ke-14. Setiap zaman dan wilayah memberi warna khas pada tradisi ini.
Memahami sejarahnya membantu kita menghargai kekayaan budaya Islam yang berkembang lintas ruang dan waktu — sekaligus menempatkan berbagai bentuk peringatan Maulid dalam konteks yang lebih luas.
Selanjutnya di seri ini: Bagian 3 — Kalender Hijriah 1448 H: Rabiul Awal, Bulan Kelahiran Nabi (terbit besok).
FAQ Seputar Maulid Nabi 2026
Kapan Maulid Nabi pertama kali dirayakan?
Menurut catatan sejarah mainstream, perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan secara formal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-4 Hijriah (abad ke-10 Masehi).
Siapa Salahuddin Al-Ayyubi dan apa perannya dalam Maulid?
Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) adalah pemimpin Muslim abad ke-12 M yang terkenal membebaskan Yerusalem dari pasukan Salib. Pada masanya, perayaan Maulid Nabi menjadi lebih terorganisir dan meluas. Adik iparnya, Sultan Muzaffaruddin Kokburi di Erbil, dikenal menggelar perayaan Maulid yang besar.
Bagaimana Maulid Nabi masuk ke Indonesia?
Tradisi Maulid Nabi masuk ke Nusantara seiring penyebaran Islam sekitar abad ke-13. Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, mengadaptasi tradisi ini ke dalam budaya lokal — misalnya melalui Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta.
Apa saja tradisi Maulid yang khas Indonesia?
Beberapa tradisi khas Indonesia terkait Maulid: Sekaten (Yogyakarta & Surakarta), Grebeg Mulud (Kesultanan Mataram), Panjang Jimat (Cirebon), Endog-endogan (Banyuwangi), dan Kanduri Maulid (Aceh).
Sejak kapan Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia?
Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yang setiap tahun diperbarui dengan tanggal yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal.