Kalkulator Selamatan
Apa itu Selamatan Kematian dalam Tradisi Jawa?
Dalam tradisi kearifan lokal masyarakat Jawa, selamatan kematian adalah rangkaian upacara doa bersama untuk mendoakan almarhum yang telah meninggal dunia. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang menekankan pada nilai-nilai silaturahmi, sedekah, dan keikhlasan keluarga yang ditinggalkan.
Rangkaian selamatan ini tidak hanya dilakukan sekali, melainkan memiliki tahapan-tahapan khusus yang dihitung berdasarkan hari meninggalnya almarhum (disebut Geblag), hingga puncaknya pada peringatan 1.000 hari yang disebut Nyewu.
Cara Menghitung Hari Selamatan Orang Meninggal
Untuk mengetahui jadwal pasti kapan sebuah upacara selamatan harus digelar, masyarakat Jawa menggunakan sistem perhitungan kalender atau Tanggalan Jawa. Secara berurutan, berikut adalah 8 tahapan selamatan kematian beserta istilah tradisionalnya:
- Geblag: Hari pertama (hari meninggal dunia).
- Nelung Dina: Peringatan hari ke-3 setelah wafat.
- Mitung Dina: Peringatan hari ke-7.
- Matang Puluh Dina: Peringatan hari ke-40.
- Nyatus: Peringatan hari ke-100.
- Pendhak Pisan (Mendhak Pisan): Peringatan tepat 1 tahun (berdasarkan siklus tahun kalender Jawa).
- Pendhak Pindo (Mendhak Pindo): Peringatan 2 tahun.
- Nyewu: Peringatan hari ke-1000 sebagai penutup rangkaian selamatan.
Agar Anda tidak bingung menghitung secara manual, silakan gunakan Kalkulator Selamatan di atas. Cukup masukkan tanggal wafat, dan sistem kami akan merincikan seluruh jadwal peringatan lengkap dengan hari pasaran Jawanya.
Tanya Jawab (FAQ) Seputar Selamatan
Apa arti dari istilah Nyewu?
Nyewu berasal dari kata 'sewu' yang berarti seribu. Dalam budaya Jawa, Nyewu adalah upacara peringatan hari ke-1000 sejak wafatnya seseorang, dan dianggap sebagai puncak atau penutup dari seluruh rangkaian selamatan kematian.
Bagaimana cara perhitungan Pendhak Pisan?
Berbeda dengan hitungan hari biasa seperti 40 atau 100 hari, Pendhak Pisan (peringatan 1 tahun) dihitung secara spesifik menggunakan siklus perputaran tahun dalam penanggalan kalender Jawa asli, sehingga jatuhnya hari seringkali berbeda jika dihitung menggunakan kalender Masehi biasa.